kematian, misteri tanpa ilusi

Posted: Oktober 10, 2010 in kegundahan
Tag:, ,

seperti apa rasanya kematian?

belum pernah saya melihat orang bangkit dari kubur kemudian bercerita tentang kematian, tentang rasanya sakaratul maut saat izrail mencabut nyawa manusia atas intruksi Tuhan yang tertulis di Lauhil Mahfudz. kenapa ada orang begitu takut dengan kematian dn kenapa ada orang justru mengejar kematian, kematian inlah misteri terbesar manusi yang tak pernah terpecahkan, setidaknya dalam ruang lingkup pemikiran saya amat sangat terbatas sebagai makhluk Tuhan.

kematian adalah sebuah perpisahan, berpisah dengan kehidupan, berpisahnya nyawa dengan raga. waktu SD saya pernah melihat seorang nenek-nenek berada dalam sakaratul maut, meregang nyawa yang nyata, nafasnya tersenggal-senggal, matanya melotot, tubuhnya seperti cacing kepanasan, dengan mulut terbuka lidah menjulur keluar, dan beberapa orang disekitarnya ada yang menangis serta membaca ayat-ayat Tuhan. entah bagaimana meninggalnya nenek itu, saya lupa, tapi memori masa kecil saya masih merekam dengan jelas prosesi saat manusia meregang nyawa.

beranjak SMP saya semakin sering melihat orang-orang meninggal dunia tapi entah kenapa saya tida pernah merasa bersedih. mungkin hati ini sudah bebal. suatu waktu di depan sekolah saya ada sebuah kecelakaan dimana seorang pengendara mototr mengalami keclakaan dan meregang nyawa dengan berlumuran darah setelh terjadi kecelakaan dengan mobil pengangkut ban dan sebuah truk. saya tidak perlu menceritakan betapa parahnya kndisi pengendara motor itu, tapi melihat bagaimana dia meregang nyawa lewat proses menggeliat lebih lama, saya bisa menebak betapa sakitnyaa kematian itu.

bahkan Rasulluloh pun menangis saat izrail datang menjemput, merasakan bagaimana sakitnya kematian. ajal memang penuh misteri, dan ketika kematian itu datang sebuah prosesi perpisahan tak terelakan, tak ada yang dapat menolak. kata orang jika kematian ditangisi artinya dicintai dan jika kematian itu dibarengi tertawa yang hidup maka orang itu dibenci. tai suatau waktu nanti saya ingin kematian saya tidak usah terlalu ditangisi toh semuanya juga akan kembali.

saya jadi ingat dulu saat mendengar nenek yang di kebumen meninggal dunia, saya di telephon kalau nenek meninggal. saat itu saya langsung memacu motor legenda kesayangan saya dari jogja menuju kebumen pagi-pagi buta, sesampai di sana saya belum begitu melihat kesibukan berarti karena nenek saya meninggal di kroya tempat paman. tapi sat mendengar kabar bahwa nenek sudah di bawa dengan ambulans, kesibukan di rumah mulai terasa. beberapa orang mulai menyiapkan ruangan dan kursi serta tempat tidur untuk jenazah, suasana begitu ramai namun sunyi, wajah beberapa orang terlihat lebih tegang.

saat ambulance sampai di rumah dan jenazah sudah dibaringkan di ruang tengah, tak ada air mata yang mengalir di wajah. Saya sibuk memikirkan : apakah kematian itu sebenarnya?apa yang menyebabkan semua ini bisa terjadi? Wajah yang selalu tersenyum itu, kini tidak lagi memancarkan ekspresi. tangan yang biasanya kucium itu kini sudah salin menggenggam di dada.

padahal beberapa saat yang lalu saya bertemu nenek, ketika mampir ke kebumen dan mampir sebentar sebelum melanjutka perjalanan dari cilacap menuju jogja. lama berlalu perpisahan itu tak terlalu begitu nyata, tapi saat lebaran ketika saya kembail berkunjung kekebumen, saya meliaht pemandangan yang unik yatu rumah kuno peninggalan simbah sudah rata dengan tanah. tapi bukan itu yang membuat sya bertanya dalam hati, yang menganjal di hati saya yaitu tak ada lagi tangan keriput yang biasa saya cium.

perlu lebih dari satu hari untuk menyadarkan saya bahwa batas antara mati dan hidup beitu tipis, begitu sederhana namun sangat sulit unutk dicerna. lain nenek lain pula teman saya, seseorang yang biasa bersanda gurau sehari-hari namun tiba-tiba meninggal, sangat aneh rasanya merasakan situasi yang berbeda, orang-orang yang biasanya ada dan berbincang bersama kemudian pergi untuk selamanya, sebuah perpisahan yang terkadang tak pernah dirasakan pertandanya dan tanpa ucapan kata-kata.

batas antara mati dan hidup hanyalah sedetakan jantung saja namun begitu rumit untuk difahami. Andai saja kita semua punya cukup waktu dalam hidup untuk memahami kematian. Tapi waktu tidak pernah cukup untuk menjawab semua pertanyaan.  bermacam-macam fragmen kematian yang saya saksikan dari kecil hingga kini, memberi sebuah pemahaman sederhana dalam diri saya bahwa tubuh bukanlah manusia dan tubuh bukanlah kehidupan.

Tubuh memang tidak memahami apa-apa. Ada jiwa yang hidup di dalamnya yang memberikan tujuan kepada tubuh. Tangan, kaki, paru-paru, jantung dan otak, semuanya berhenti bekerja ketika jiwa itu pulang ke tempat asalnya, sesuai waktu yang telah ditentukan baginya. Yang terbaring dalam diam itu hanyalah tubuh, dan orang-orang yang terbaing kemudian dikubur itu bukanlah nenek, teman atau kerabat saya, kara itu semua hanya tubuh sedangkan mereka sebenarnya telah pergi. Andai saja ada waktu yang cukup untuk memahami segalanya. Tapi hidup ini memang tidak pernah cukup untuk menjawab semua pertanyaan, dan akal saya pun tidak cukup mampu untuk mencarikan semua jawaban.

apa yang terjadi pada saya tak kan jauh beda, saat kemaian itu tiba dan membuat sebuah perpisahan paling nyata dengan dunia, maka saya bukalah apa-apa, hanya seonggok tubuh tak berdaya tanpa nyawa tanpa jiwa. saat itulah saya tak kan lagi berdaya, hanya seonggk bangkai yang menerima apa saja yang dilakuka terhadap tubuh saya, hingga dikubur kemudian menjadi makanan cacing tanah. bermacam-macam feragmn dan sketsa kematian yang tampak di mata saya selama bertahun-tahun masih belum juga membuat saya memahami kematian. Saya takjub dengan sebuah kekuatan yang mampu memisahkan tubuh dan jiwa, kemudian membuat situasi menjadi begitu berbeda. Segalanya berubah ketika jiwa berpulang ke kampung halamannya.

saat kematian menyapa apalah daya anak manusia, seperti juga mereka yang megalami genosida, atau korban-korban perang dari berbagai negara hingga yang mengalami kematian dalam kecelakaan bahkan bencana, semuanya tak bisa apa-apa. akhirnya semua terkubur dalam gundukan tanah basah. dalam sebuah kesepian yang nyata. Mungkin untuk beberapa hari setelah kematianku, aku masih diingat dan masih banyak orang yang berkunjung ke kuburanku, tapi itu tidak akan lama. Pasti diri ini akan dilupakan. dan saya tidak tahu itu. Waktulah yang akan menjawabnya…….

Selamat jalan untuk diriku yang telah wafat……….

adzan isya baru selesai berkumandang dari masjid yang jaraknya tak terlalu jauh dari rumah saat sebuah dering sms dari mas Agung Poku menghampiri, menanyakan tentang ajakan mas Gugun untuk ikut meramaikan acara launching buku terbaru dari Ayu Utami. tapi karena sudah terburu janji dengan mba Shasa untuk menemui mas Fathoni yang mampir ke Jogja, terpaksa saya cancel ajakan dari mas agung poku. namun hidup memang sebuah misteri, janji pertemuan kami dengan mas fathoni justru dilaksanakan di Yayasan Umar Kayam alias tempat Ayu Utami buka-bukan tentang “Manjali dan Cakrabirawa” novel terbarunya.

jujur saya akui, saya bukanlah penggemar Ayu Utami walaupun saya mengakui ayu adalah seorang penulis handal, buku-buku yang dihasilkan dalam jagad sastra indonesia berhasil merengkuh berbagai penghargaan sudah lebih dari cukup untuk menjadi buki sahih kehebatan tangan Ayu Utami menari merangkai kata dalam sastra. hanya saja mungkin saya kurang sepaham dengan gaya menulis ayu yang cendrung vulgar, tanpa basa-basi. tulisan yang oleh sebagian orang (bahkan sastrawan lain) sebagai “perusak” tapi justru dari karya-karya seperti itulah pemilik nama lengkap Justina Ayu Utami mendapat penghargaan sebagai “pendobrak“.

apa yang dilakukan Ayu Utami dengan karyanya tentu saja tidak salah, seni itu soal selera, dan selera menciptakan warna hingga tampil aliran-aliran dalam khazanah dalam dunia seniman. toh hal ini pulalah yang menjadikan kepingan-kepingan mozaik sastra indonesia semakin menarik untuk diikuti. tapi pro dan kontra selalu ada, penulis-penulis yang sealiran seperti Clara Ng, Dinar Ayu, hingga Djenar Mahesa Ayu tetap berada pada pendirian mereka bahwa tak ada pagar dalam seni. hal ini berbenturan dengan pemahaman Taufik Ismail, Gola Gong, hingga Saut Situmorang bahwa moral harus juga dikedepankan dalam setiap tulisan.

tapi sekali lagi, seni adalah soal, inspirasi, imajinasi dan hak asasi. anda suka anda baca kalau tidak suka tutup bukunya. salah satu karya yang cukup membuat mata sastrawan terbelalak adalah “larung” yang merupakan karya lanjutan Ayu Utami dari karya pertamanya “saman“. dan yang sangat keras mendapat keritikan para kritikus sastra adalah karya Djenar Maesa Ayu bukunya yang berjudul “Waktu Nayla” menceritakan tentang adegan oral seks antara seorang anak perempuan dengan ayah kandungnya! Luar biasa berani! Yang menurut Kathrin Bandel, seorang kritikus sastra, novel itu tidak mempunyai logika cerita. (rizal amanfaluti : 2007)

Ayu Utami tetaplah Ayu Utami dengan idealisme menulisnya. namun ada satu kutipan menari dari ayu utami dalam bincang-bincang tadi, yaitu soal “sastra serat” dan “sastra tanpa serat“. sastra tanpa serat diibaratkan sebuah makanan seperti bubur. sudah lembut renyah dan tinggal telan saja, tanpa perlu usaha keras untuk menelan. walaupun secara eksplisit Ayu Utami tetap mencoba untuk objektif dan tidak membeda-bedakan dan menghakimi, tapi toh dari mimik dan bagaimana ayu merangkai kalimat, secara implisit ayu sedang menyindir dunia sastra indonesia yang semakin cengeng (baca alay lebay). memang novel-novel akhir-akhir ini lebih didominasi oleh religi romantis, hingga novel yang tidak jelas lagi antar fakta atau fiksi, karena hainya penuh bertabur metafora yang lebih berbau dongeng.

Membincang pengecaman buku (baca karya sastra/tulisan) sama halnya dengan berbicara tentang kontroversi. Sebuah kontroversi menoleransi munculnya dua sisi penilaian, hitam dan putih. Bergantung dari terminal pemikiran mana ia mengapresiasinya. Kecaman Taufiq Ismail terhadap maraknya karya sastra yang ia sebut beraliran SMS (Sastra Mazhab Selangkangan) yang dipunggawai Hudan Hidayat, Ayu Utami, dan kawan-kawan, tentu tak akan pernah sealur dengan optik penilaian yang dipakai para penentangnya.

Mereka berpandangan sastra adalah khazanah nirbatas, termasuk batas moral sekalipun. Beberapa tahun silam, trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya fenomenal Ahmad Tohari pun tak luput dari kecaman. Sejumlah guru sekolah menilai novel sastrawan asal Banyumas ini diwarnai dengan “visualisasi” adegan mesum yang tak laik dibaca anak usia sekolah. Walaupun kita tahu, karya ini termasuk di antara karya terbaik jagad kesusasteraan Nusantara, toh tak luput dari kecaman. (geib, goodreads : 22 agustus 2008).

Selama ini unsur SARA (suku, agama, dan ras), moral, pendidikan, dan seksualitas masih menjadi barometer guna mengukur responsibilitas kaum pembaca buku. Harus tertanam kehati-hatian agar penulis tak tergelincir untuk mempermainkan zona yang dianggap berbahaya, semisal batas-batas akidah dengan mengumbar imajinasi liarnya, terkadang ada yang perlu dikeluarkan dan ada pula yang perlu untuk di tahan terlebih dahulu. walaupun pada akhirnya kembali pada hak asasi penulis itu sendiri.

selalu saja ada hikmah dari setiap pertentangan dan kontroversi, kontroversi justru menjadi iklan gratis bagi penulis maupun karyanya. yang memancing ras penasaran khalayak ramai. lihat saja buku “saman” yang sempat memicu kontroversi berhasil menembus angka penjualan lebih dari 55.000 eksemplar, ini tentu sebuah cerita cukup fantastis untuk karya sastra “berat” dari seorang penulis pemula (saman karya pertama Ayu Utami tahun 1998).

memang tak ada alasan untuk menyalahkan satu jenis karya sastra karena setiap karya adalah hasil dari perjuangan kreatif dari penulis. dan gaya  penulisan juga adalah sebuh proses panjang pencarian jati diri. ada bahasan kecil dari Ayu Utami saat menyinggung Romo Mangun yaitu perubahan gaya penulisan dari karya pertamanya “roro mendut” yang sangat artistik berbeda dengan karya-karya Romo Mangun berikutnya yang agak lebih “sederhana”. jadi, apakah Ayu Utami akan sedikit merubah gaya menulisnya dari karya-karyanya yang terdahulu menjadi sebuah misteri tersendiri dalam jagad sastra nusantara, mungkin jika ayu utami menulis lebih “halus”, maka bisa jadi salah satu keajaiban dunia sastra indonesia.

selamat ultah ky

Posted: Juli 24, 2010 in apa
Tag:, ,

Menjadi sebuah harapan di masa-masa sulit bukan hanya perbuatan bodoh yang romantis. semua ini didasarkan pada kenyataan bahwa sejarah manusia adalah sejarah tidak hanya dari kekejaman, tetapi juga kasih sayang, pengorbanan, keberanian, kebaikan.
Apa yang kamu pilih untuk berjuang dalam sejarah yang kompleks akan menentukan hidup mu. Jika kamu hanya melihat yang terburuk, itu merusak kemampuan mu sendiri untuk melakukan sesuatu. Jika kamu ingat saat-saat dan tempat-dan ada begitu banyak-mana orang-orang berperilaku menakjubkan, ini memberikan kau energi untuk bertindak, dan setidaknya kemungkinan keberhasilan ini di atas dunia yang berputar dalam arah yang berbeda.
Dan jika kau bertindak, namun kecil di jalan, kamu tidak harus menunggu untuk beberapa masa depan dalam utopis besar. Masa depan adalah suksesi hadiah tak terbatas, dan untuk hidup sekarang, seperti yang kita pikirkan, bahwa manusia harus hidup, bertentangan dengan semua yang buruk di sekitar kita, itu sendiri merupakan kemenangan yang luar biasa. “

selamat ulang tahun Indah Rizky Nugraheni

rangka hati

Posted: Juli 1, 2010 in puisi
Tag:, , , ,

utopia gila menggelayuti otak-otak manusia
dalam bingkai yang tak bermakna

suar hilang, tenggelam dalam sunyi
tak ada gema dari dinding dunia

semua kini diam
tak berani bicara
bukan soal kata
tapi makna

ingin rasanya kembali
melihatmu dari lain sisi
mencoba untuk mengerti
bahwa kita tidak saling mencintai

negeriku indonesia
mendera tangis suara
dalam kegelapan asa
ibu pertiwi sedang terluka

rakyat menderita
pejabat berfoya-foya

melihat dengan nyata
rangka hati yang terluka

Andai kau baca goresan ini, jujur saja…. seperti biasa aku selalu dilanda rindu padamu. Apalagi berminggu terakhir ini aku tak bisa lagi memandang potretmu. Sejak kau katakan kau tak lagi mau melihatku, aku sudah kehilangan jejakmu. Bahkan mungkin cerita kita kemarin sudah berlalu bagimu. Tinggalah kini aku yang masih mencoba mencari dalamnya sunyi. Hanya agar bisa menghindar dari hidupmu. Sungguh hati ini serasa tercabik. Sanggupkah aku berjanji untuk tidak menjumpaimu kelak ?

Memang tak pantas lagi aku berkhayal tentang dirimu. Bahkan rindu inipun sesungguhnya terlarang buatmu. Namun apa dayaku ? Meski tak bisa lagi aku memandang potretmu, wujudmu masih begitu nyata dalam pandangku. Bibir ini masih saja sering menyebut namamu tanpa sadarku , mempertaruhkan hidupku. Tak terpikikr olehku apa yang terjadi andai dinding-dinding kamar ini tahu bahkan dalam berbaringpun, dirimu tak pernah lepas dari pikirku.

Aku memang mencintaimu. Tak pernah kuragukan itu. Tapi apakah kita saling mencintai sejak pertama kali bertemu ? Itu yang aku tak tahu. Mampukah pertemuan dan perbincangan sesaat diantara kita menghadirkan rasa cinta ? Namun ketika kuceritakan perjalanan hati , iman dan hidupku sejak mengenalmu, seorang temanku yang kebetulan seorang mahasiswa pisikologi memastikan itu.

Kuakui…aku memang sudah larut dalam dirimu sejak hatiku bergetar membaca tulisan mu di sebuah jejaring sosial yang kini telah tiada. Kala itu aku langsung terobsesi ingin bertatap muka denganmu. Aku pikir obsesi itu akan hilang setelah terwujud. Namun ternyata aku salah. Aku malah menginginkan pertemuan kedua dan selanjutnya, meski dengan pertimbangan tertentu kau berusaha menutup pintu ruang pertemuan itu. Emailkupun akhirnya tak pernah berbalas. Smskupun lewat begitu saja. Namun karena aku sadar siapa diriku, akupun memaklumi dan bisa memahami sikap yang kau tunjukkan padaku.

Bahkan kubiarkan kau berpikir hina tentang diriku. Sebab andaipun kujelaskan , aku tetap merasa tak pantas buatmu. Itulah awal mula aku terbiasa bertahajud. Padahal sebelumnya, seburuk apapun perjalanan hidup yang menderaku, hampir tak pernah aku berkeluh kesah dan mengadu kepada Sang Empunya Hidup. Saat itu aku berkeyakinan tak ada yang bisa merubah takdir. Satu-satunya pertahanan adalah aku harus bisa kuat ,tegar dan tabah jika keinginan untuk mengakhiri hidupun takpernah diijinkan olehNya. Bahkan tak jarang di tengah malam buta kusenandungkan Alquran dengan terbata-bata , karena selalu berlinang air mata tak kala membaca tafsirnya. Sungguh akhirnya aku merasa mengenalmu adalah hal terindah. Karenamu aku merasakan damainya hati kala bercengkerama dengan Allah. Cintaku padamu telah membuatku merasa begitu dekat denganNya. Bahkkan aku juga pernah berusaha memperbaiki kwalitas hidupku dengan ibadah.

Dan kini meski akhirnya mungkin kau mulai mengerti tentang kehidupanku yang complicated, Namun itu justru menyadarkanku untuk kemudian menuntun langkahku harus menjauh darimu. Apalagi kala kulihat potret keluargamu. Sungguh aku tak berniat mempermainkan hatimu. Aku hanya tak ingin nantinya lebih menyakitimu dan membawamu masuk dalam kemelut hidupku. Sungguh cintaku tulus padamu tanpa berharap kau membalasnya. Meski kini aku menderita karena hanya bisa berkhayal tentang cinta kita, tapi aku bersyukur saat ini kadang masih bisa bertahajud , mencoba bercengkrama dengan Allah tentang dirimu. Ternyata meski telah kupilih sendiri jalan hidupku, menjauh dan meninggalkanmu, tetap saja bayang dan ingatanku tentangmu masih sanggup menuntunku bertahajud padaNYA. Dan dengan semuanya itu, mungkinkah rindu ini masih terlarang buatmu ?

Ah … Andai kau baca goresan ini , aku hanya ingin bilang padamu . “Jika mencintaimu adalah salah, aku tak pernah ingin menjadi benar “.

with love
untukmu : Putri Shinta Prima Siwi Prantri

Gambarmu

Posted: Juni 21, 2010 in apa
Tag:, ,

hahahaha…….kini aku ingin tertawa bahagia…. kau tahu kenapa ? karena aku bahagia…
kau boleh meninggalkanku dengannya disana, tapi aku bahagia…
kau kini bersedih dan tertekan bersama dia, dengan dirinya yang nyata kau tenggelam…

tapi aku disini bahagia melihat diriku yang hanya ditemani gambarmu.,,.
gambar yang ku lukis di dinding kamar..,.,. gambar yang kubuat dengan tangaku sendiri sebagai salah satu ekspresi cintaku, gambarmu yang menemaniku. dia tidak pernah mengeluh dan selalu tersenyum. gambarmu membuatku mengerti tentang semua ini.

teruslah beramanya dan aku bersama gambarmu.,.,.,.
wakakakkaka……………………………………………………………………
kini kau akan tahu siapa yang bahagia.

Setengah Purnama

Posted: Juni 18, 2010 in kegundahan
Tag:, , ,

bulan hanya terlihat separuh dari yang seharusnya ada. setengah pasang setengah surut air laut di pantai. dalam benak hati merindu gelap, dalam benak mata merindu cahaya. hanya tanpa setengah hanya hadir setengah, menimang bumi dalam sebuah rotasi. pantulan setengah kondisi nurani. hidup dalam pangkuan ketidakpastian. sisi lain tak terlihat tak tampak tak muncul, hanya setengah, setengah. setengah cahaya kuning emas dengan bercak noda-noda hitam. dikelilingi kegelapan. siklus hidup dalam kondisi ketidakpastian. biarkan setengah, setengah saja, cukup setengah. cukup menerangi gulita malam, kita bisa bahagia.